Kepahiang, DLIKNews.com – Dalam upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mempererat kebersamaan antar pelajar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, akan menggelar school meeting tingkat SD dan SMP se-Kabupaten Kepahiang pada Senin, 16 Juni 2025.

Kegiatan yang berlangsung di kantor Dinas Dikbud Kepahiang ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Dr. Hartono, S.Pd., M.Pd., serta para guru dan kepala sekolah dari berbagai satuan pendidikan.

Kepala Dinas Dikbud Kepahiang, Nining Fawelly Pasju, S.Pt., MM, melalui Kepala Bidang Kebudayaan, menjelaskan bahwa kegiatan school meeting kali ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan kompetisi akademik, tetapi juga wadah memperkenalkan kembali permainan dan olahraga tradisional yang mulai ditinggalkan generasi muda.

“Ada empat cabang perlombaan yang akan digelar, semuanya bertema permainan dan olahraga tradisional, seperti lompat tali, bakiak, cabur, lari balik, dan tagan. Selain untuk anak-anak, dewan guru juga ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut,” ujar Kabid Kebudayaan kepada wartawan DLIKNews.

Ia menambahkan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah melestarikan warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi. Permainan tradisional dinilai memiliki nilai edukatif, sportivitas, serta mempererat kebersamaan di antara peserta didik.

“Permainan dan olahraga tradisional ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Jangan sampai eksistensinya hilang. Kita harus menanamkan semangat pelestarian kepada generasi muda sejak dini,” tegasnya.

Selain menjadi ajang kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi langkah konkret Dinas Dikbud Kepahiang dalam mengintegrasikan unsur kebudayaan ke dalam dunia pendidikan, sebagaimana amanat Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya karakter dan kearifan lokal.

Sementara itu, panitia pelaksana mengimbau seluruh sekolah di Kabupaten Kepahiang yang ingin berpartisipasi dalam lomba agar mendaftar secara daring melalui website resmi Dinas Dikbud Kepahiang.

Acara ini diharapkan dapat menjadi momentum kebangkitan budaya daerah, sekaligus menginspirasi kabupaten lain untuk menggelar kegiatan serupa. (Sanusi)